Senin, 28 September 2015

Student Exchange Program 2014

Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum :)
Apa kabar? Sudah lebih dari setahun ya tidak menulis disini. Mohon maaaf sekaliii yaaa. Hehehe. Untuk pos hari ini, saya akan mencoba “membayar hutang” cerita dan pengalaman saya selama mengikuti pertukaran pelajar di Turki. Mohon maaf juga telah menunda menulisnya sudah lebih dari satu tahu hehehe :D

Kok bisa ikutan pertukaran pelajar? Nah iya, pertukaran pelajar ini dilaksanakan setiap tahun oleh IPSF (International Pharmaceutical Students Federation), yaitu himpunan mahasiswa farmasi internasional yang mewadahi kegiatan mahasiswa farmasi se dunia, salah satu programnya adalah pertukaran pelajar. Sebenarnya saya hanya coba-coba saja mengikuti program ini. Mulai dari daftar awal hingga akhirnya ditempatkan di University of Ankara, Turki. Proses pendaftaran hingga kepulangan sangat dibantu oleh SEO (student exchange officer) HMF (Himpunan Mahasiswa Farmasi ‘Ars Praeparandi’ ITB) dan SEO Ankara, dan teman-teman dari PPI Turki.

Visa Turki 25 Juni-25 Agustus 2014
Mengapa Turki? Awalnya saya diberi kesempatan untuk memilih 3 negara tujuan, yaitu Jerman, Turki, dan Korea. Sampai pada akhirnya, di bulan Februari kalau tidak salah, SEO Turki menjadi negara pertama yang memberi respon terkait pendafataran tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih Turki sebagai negara tujuan, setelah melalui berbagai pertimbangan. Salah satu pertimbangannya adalah karena ada 3 orang adik kelas SMA yang saya kenal tengah menuntut ilmu di Turki. Mereka sangat senang mendengar kabar keberangkatan saya ke Turki. Saya merasa tidak sendiri dan semakin yakin memilih Turki sebagai negara tujuan.

Acaranya berlangsung dari tanggal 1 hingga 20 Juli, di University of Ankara, kota Ankara, Turki. Keberangkatan dari Indonesia tanggal 28 Juni 2014 dan kepulangan 31 Juli 2014.

Nah mungkin pembukanya cukup sekian ya, berikut gambar dan captionnya J Selamat menikmati :)
Bandara Soekarno-Hatta, 28 Juni 2014
Guven Park, Ankara, 29 Juni 2014


Senin, 23 Juni 2014

Minggu Depan

Entah karena ini sudah menjadi kebiasaan atau apa, (lagi) menulis blog di saat insan lain di rumah ini tengah tidur terlelap.
Perasaan yang tengah berkecamuk di hati dan pikiran ini adalah tentang minggu depan.
Ya, minggu depan saya hendak berangkat menuju suatu negara yang berada diantara dua benua, yaitu benua dimana saya dilahirkan dan benua biru dimana sama sekali belum pernah saya pijaki. Tempat dimana satu kaki saya berada di benua Asia dan satu lainnya di benua Eropa.
Perasaan gugup ini, sekaligus perasaan haru karena harus terpisah dengan keluarga selama satu bulan dan bertepatan dengan bulan Ramadhan.
Teringat Ramadhan saja sudah ingin menangis, rindu rasanya dan senang rasanya dapat dipertemukan dengan bulan mulia ini. Dimana misi utama di bulan ini adalah memperoleh rahmat, maghfirah, dan dijauhkan dari api neraka.
Teringat saja sudah ingin menangis, apalagi teringat Ramadhan ini tidak akan berada di tengah-tengah keluarga terinta, begitu pula Idul Fitri.
Rencana Student Exchange ini tercetus begitu saja pada bulan Desember ketika tengah merancang resolusi di tahun 2014.
Niat untuk pergi sempat naik turun, tapi kini, insyaAllah sudah dimantapkan untuk pergi, tentunya dengan memahami betul akan setiap risiko yang akan dihadapi.
Saya ingin menjadikan perjalanan ini sebagai suatu titik awal untuk merasakan 'luasnya Bumi Allah'.
Melihat, mendengar dan merasakan sendiri bagaimana keadaan manusia di belahan Bumi lainnya.
Perjalan pertama saya yang akan menjadi pengalaman tak terlupa saat menjadi seorang mahasiswa S1.
Pengalaman yang akan dikenang dan dijadikan cerita kelak untuk anak cucu saya.
Orang tua saya adalah pendukung utama saya dalam kegiatan ini, mereka percaya betul bahwa putrinya akan senantiasa menjaga diri dengan baik dan memberikan kesempatan kepada putrinya ini untuk berinteraksi dan memahami esensi hidup ini.
InsyaAllah perjalan ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan dan memiliki hikmah dari tiap detik yang dijalani.
Saatnya packing dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk kesana.
Semoga dapat memberikan atmosfer terbaik untuk Ramadhan ini, insyaAllah :)

Jadwal keberangkatan : 28 Juni 2014
Jadwal kepulangan : 30 Juli 2014


Bandung, 23 Juni 2014
Lima hari sebelum keberangkatan, bismillah :)

Akhir kata, saya ingin meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah saya buat, baik disengaja maupun tidak, baik yang saya sadari maupun tidak disadari. Marhaban ya Ramadhan. InsyaAllah, dimanapun saya berada nantinya, semoga Ramadhan dapat dijadikan momen untuk semakin dekat dengan-Mu, Ya Allah :)

Kamis, 01 Mei 2014

I Know How It Feels

Tulisan pertama di tahun 2014.
Bandung, 1 Mei 2014, dimulai dini hari sekali.
Saat manusia lainnya mungkin tengah berada di alam mimpinya.

..
Ini bukan yang pertama, ya, bukan yang pertama.
Namun, kayakinanku belum jua sampai pada kepastian bahwa ini akan menjadi yang terakhir.
Lagi lagi tentang sesuatu yang bernama 'hati'.
Hal yang teramat sensitif dan kerap menjadi topik utama pada sebagian besar tulisan di blog ini.
Wanita dan hatinya, dua hal yang sama-sama sensitif dan terkadang sulit diterka kemana maunya.
Sempat tersentak dengan ungkapan 'too many feels', yang menyudutkanku akibat saking mudahnya mengagumi maha karya Tuhan Yang Maha Sempurna.

Entah karena aku yang tidak dapat menjaga 'hati' dengan lebih baik atau memang karena 'hati'-ku ini sudah benar-benar 'liar'.
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar-Rum:21)




Rabu, 14 Agustus 2013

Sahabat

Sahabat atau kata lainnya teman dalam bahasa Indonesia, réréncangan dalam bahasa Sunda, friend dalam bahasa Inggris, 친구 (baca: chin gu) dalam bahasa Korea, صديق (baca: shodiiq) dalam bahasa Arab *terima kasih google translate*, Freund (baca: froind) dalam bahasa Jerman, dan banyak lagi kata lainnya yang bisa anda lihat di google translate. Hehehehe :D

Sahabat merupakan suatu kata yang menggambarkan kebersamaan kita sejak 14 tahun lalu. Ya, saya, Santi dan Yulita telah berteman sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya hanya sempat belajar bersama dengan mereka selama 6 tahun, sedangkan mereka berdua, tentunya dengan takdir-Nya, dipersatukan hingga 12 tahun untuk dapat belajar di satu almamater yang sama. Namun, hal tersebut tak membuat persahabatan kita berakhir, we're still connected each other. 

Dari kiri : Ita, Santi, dan Risma
Foto di atas diambil saat kami berbuka puasa bersama di salah satu restoran di bilangan Sarijadi, Myeong Ga, Senin, 5 Agustus 2013 setelah sebelumnya kami menonton film The Conjuring di Blitz Megaplex PVJ.


"Kita beteman bukan hanya untuk kemarin dan sekarang. Tapi pertemanan ini akan tetap terjalin hingga esok, esoknya lagi dan esoknya lagi. Mungkin sampai kita memiliki suami, anak, cucu, dan akhirnya kembali kepada Dzat pemilik diri ini. Meskipun akan banyak teman yang mewarnai hidup kita di kemudian hari, teman yang datang saat kita berada di SMP, SMA, Perguruan Tinggi, dunia kerja, teman hidup, dan banyak lagi teman lainnya, kita akan tetap menjadi sahabat yang takan lekang termakan waktu. Kelak, kamu, aku dan kita tentunya, akan menjadi kenangan yang akan diceritakan kepada manusia yang datang kemudian :)"

Sabtu, 20 Juli 2013

Ranting yang Ringkih

Bismillahirrahmanirrahiim..
Malam kini berganti pagi, tanpa sedikit pun terasa perubahan suhu di balik kamar tidurku ini. Entahlah, mungkin rasa nyaman ini yang mengalahkan rasa kantuk dan hawa dingin yang menusuk jika aku berada di luar sana. Pagi ini, sebelum sahur, sebelum insan lain di rumah ini membuka kedua matanya, aku ingin menulis. Ya, hanya mampu mengutarakannya lewat tulisan, karena mungkin hanya untaian huruf, kata, dan kalimat inilah yang dirasa lebih mampu melakukannya.

Sebuah pilihan akan mendapatkan dua respon, yaitu dukungan dan cacian. Respon pertama yang berupa dukungan tak ubahnya pisau bermata dua. Di satu sisi, mampu memberikan tambahan motivasi bagi sang pemilih, namun tak pelak seolah bisikan setan yang menambah amunisi kesombongan bathiniyahnya. Sebaliknya, cacian terkadang menyurutkan semangat bagi sang pemilih, bahkan hingga membuatnya mengurungkan niatnya itu. Namun, dibalik cacian itu seolah pematik yang memicu api untuk tak pernah padam. Dengan cacian, kita diajak untuk berpikir ulang dengan apa yang telah kita pilih. Memikirkannya dengan lebih mendalam, hingga sampai pada suatu kesimpulan yang lebih teguh : tetap dalam keputusan itu atau menemukan pilihan lain.

Hari ini, 20 Juli 2013, menggenapi jatah usiaku yang ke-20 tahun 4 bulan 3 hari. Bisa dibayangkan, betapa banyak pilihan dalam hidup ini yang meminta untuk dipilih dan dijadikan prioritas diantara yang lainnya. Jika aku bisa kembali ke masa lalu, menyusuri rentetan waktu yang telah berlalu, mengubah setiap pilihan yang telah kuambil, aku tak bisa membayangkan akan menjadi seperti apa diriku ini. Jika aku tidak kuliah disini, jika aku tidak bersekolah di SMA itu, jika aku tidak melanjutkan SMP di tempat itu, jika aku tidak memilih sekolah di SD itu, jika aku tidak memulai pendidikan formal di TK itu, jika aku tidak ikut ajakan pamanku untuk mengaji di tempat itu, jika aku tidak dilahirkan di tahun itu, jika aku tidak dikandung oleh wanita mulia itu, jika aku tidak memiliki ayah seperti pria bijaksana itu, dan jika aku tidak dikehendaki-Nya untuk Dia ciptakan dan lahirkan di dunia ini. Jika... Ah sudahlah!

Semua ini terjadi atas kehendak-Nya. Tiada yang bisa menentang apa yang telah digariskan-Nya bagiku. Aku hanyalah hamba-Nya yang percaya akan hari pertemuan dengan-Nya. Aku yang percaya bahwa Dia ada, meskipun aku tak dapat melihat-Nya. Tapi, biarlah hati ini yang merasakan keberadaan-Nya. Kuakui lemahnya ikatan pada-Nya, namun Dia tak pernah meninggalkanku. Karena, sesedikit apapun niatku untuk mencoba mendekati-Nya, maka semakin besar jarak-Nya menyentuh jiwaku. Meskipun sering kulalai mengingat-Nya, mengulang lagi dosa kepada-Nya, ragu akan takdir-Nya, tapi dengan kasih dan sayang-Nya yang melebihi bumi, langit, dan seisinya, kudapati Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sehingga, semakin kupercaya akan firman-Nya.

Demi Dzat yang tidak pernah tidur, teguhkanlah ranting yang ringkih ini.







Best regards,
Rismawati Laila Qodariah
20 Juli 2013 02.45 WIB


Jumat, 12 Juli 2013

Belum

Capture dari tumblr temen yang secara gak langsung bikin kagum sekaligus bangga. -Unspoken Words-

Jumat, 28 Juni 2013

Melarunglah


Hahaha itu post blog setahun lalu. Kenapa ya malem ini random post itu lagi?
Mungkin ini malem, untuk yang ke tiga kalinya gambar itu di pos. HAHAHA
Selamat melarung menuju tujuan dari semua tujuan.
Kusimpan tanya yang tak perlu kau jawab.
Selamat menjalani suasana dan hidup yang lebih baru :)

Cukup sampai ke tiga aja yaa. Selanjutnya mungkin bisa lebih worth it lagi postingannya :)



Selasa, 12 Maret 2013

Lelah

Sebenernya terlalu cemen buat ngasih judul kaya di atas. Tapi honestly, HARI INI PUNCAK LELAHNYA.
Rasanya terlalu naif buat bilang lelah. Tapi, ya mau gimana lagi.
Baru hari ini sadar kalo ternyata dari sekian banyak rutinitas yang dijalani ini, bikin LELAH.
Baru hari ini ngeluh sama mamah-papah dan bilang : "Mah, Pah, aku cape. Sekarang mulai kerasa ya capenya. Berasa pengen ketik tuts Esc atau klik kanan - Refresh"

Rabu, 13 Februari 2013

Achtung!

Kenapa judulnya 'achtung' ya? hahaha random aja sih.
Akhir-akhir ini gw udah ampe lupa caranya senyum.
Entahlah, kesibukan udah dimulai.
Dan kegalauan gw untuk mutusin suatu perkara makin menjadi-jadi.
Gw mudah terdistraksi dan fokus gw jadi kurang tajam.
Kenapa ya?
Apa sih yg gw pikirin?
Padahal sebelum-sebelumnya gw udh set aside apapun hal-hal yang menurut gw less important.
Gw udah berusaha mengembalikan setiap hal pada tempatnya.
Harusnya sih sekarang gw udah lebih nyantai nih.

Btw, gw baru aja ngambil keputusan yang sulit-sulit-gampang.
Kuliah pilihan.
Ya, berat aja gitu rasanya buat ngelepas.
Saat lu udah dengan semangat di awal semester buat ngambil, tiba-tiba menjelang prs, lu mulai berpikir ulang.
Saat barang-barang praktikum udah 90% ada, lu mutusin untuk lepas (kalo soal ini sih ga masalah juga, soalnya barang-barang praktikum pasti bakal kepake juga sih entarnya).
Saat mutusin sesuatu lu harus mikir lebih dari dua kali.
Saat keadaan seolah mengaburkan kepada siapa sebenarnya lu harus bertanya dan bergantung, padahal Dia tidak pernah lengah dari mendengar setiap permintaan lu.
Allah memang adil.
Memberikan bidadari-Nya untuk senantiasa membuat gw lega dan telaten menuntun gw untuk menyusun kerangka berpikir yang logis untuk memutuskan suatu hal.
Ibu gw, ya cuma dia yang tau keadaan psikologis gw.
You're my angle sent from above.
Ga banyak sih hal yang bisa dengan terbuka gw ceritain ke dia.
Dia pilihan terakhir gw dan final answer yang mutlak bakal gw pilih.
Jawaban dia adalah jawaban akhir gw.
Seakan udah terbentuk segitiga kokoh antara gw-Allah-ibu.

Gw sadar betul dengan konsekuensi yang akan gw dapet setelah ngambil keputusan ini.
Dengan kesadaran ini, semoga gw bisa semakin bersyukur dan bersyukur lebih banyak lagi.

Beban yang menyesakkan dada gw udah mulai berkurang.
Gw semakin yakin dengan apa yang gw pilih, insyaAllah.
Rasanya gw udah menemukan kembali cara untuk tersenyum.
Tersenyum lebih lepas dan tulus :)

Sebelum gw beres nulis, gw mau bilang :
"Terima kasih atas kesetiannya untuk senantiasa berdetak. Tolong sampaikan rasa terima kasih ini juga untuk detakan yang terakhir."